Antara matahari dan Mas Zamhari, manakah yang lebih menyinari harimu?

Jika judul di atas tiba-tiba menyebabkan anda pusing hingga berkunang-kunang, abaikan saja, terlebih pada pilihan kedua. Hehe...
Perbandingan yang tidak apple to apple. Tapi tidak apalah. Sekali-kali saya muncul di tulisanku sendiri. Hehehe...


Kita fokuskan saja pembahasan ini pada matahari yang setia menyinari kita.  

Air dan api, musuh atau sahabat?

Air adalah sesuatu yang mudah kita temukan dalam kehidupan kita sehari-hari. Keberadaannya tidak dapat kita hindarkan. Lha wong sekitar 80% tubuh kita aja tersusun dari air dan 70% persen permukaan bumi adalah air. Lho, banyak kan? Belum lagi ditambah kalo kamu buang air. Hehe...

Air selama ini diidentikkan sebagai musuh dari api. Ini diperkuat dengan permusuhan antara negara api dan negara air di film Avatar. Hehe... Tapi tahukah anda sebenarnya penyusun air adalah dua unsur yang bisa menyebabkan munculnya api, bahkan kebakaran. Hlo? Kok bisa?
Air dan api, musuh bebuyutan ataukah sahabat karib?
credit picture: opicque.blogspot.co.id

Ada lubang, tapi di mana pinggirnya?

Di suatu sore, saya dan kakak saya disuruh oleh almarhumah Mbah saya untuk membeli sayur tahu santan pedas. Makanan di warung itu terkenal enaknya. Meski hanya sayur tahu, itu merupakan makanan mewah bagi kami. 

Sembari menunggu, saya disuguhi perbincangan hangat dan kocak antara sang penjual dan salah seorang pembeli. Sebuah pertanyaan yang nampak sederhana dilontarkan oleh penjual, “Ono bolongan tapi ora ono pinggire, opo hayo...? (Ada lubang, tapi ga ada pinggirnya, apa coba?)”.

Sang pembeli pun bingung. Sang penjual akhirnya memberikan jawaban, “Jagad (alam raya)”. Kami pun tertawa. Iya ya, di mana pinggirnya.

Jika kue donat masih ada pinggirnya, bagaimana dengan alam ini? Ada ga sih pinggir atau ujungnya? Jadi jangan mau digombali bahwa Anda akan dikejar hingga ujung dunia. 
credit pict: huffingtonpost.com dan www.nasa.gov

Haduuhh... kerupuk ku melempem

Nasi sudah siap, lauk juga menggoda lidah. Rasanya kurang mantap tanpa kerupuk yang kriuk kriuk. Tapi apa daya kerupuk yang sudah ku siapkan sejak lama malah melempem

Sungguh menyedihkan. Tapi gimana lagi. Mungkin ini sudah menjadi suratan takdir. Hiks hiks hiks... 

Daripada berlarut dalam duka, lebih baik ku cari sebabnya.


Makan siang tanpa kerupuk bagai hidupku tanpa kamu, iya kamu... tak sempurna
Please, biarlah kerupuk saja yang melempem, kamu jangan