Misteri uang seribu

Gini ceritanya, ada tiga orang bernama Ari, Denny, dan Kamali (orang-orang tersebut fiktif. Jika ada kesamaan, itu disengaja adanya). 

Suatu saat, tiga orang bertubuh gempal tersebut jalan-jalan ke Jogja, mutar muter di Malioboro, terus ke keraton, dan diakhiri dengan naik odong-odong di alun-alun kidul. Karena kemaleman, mereka terpaksa harus nyari penginapan. Untungnya setelah nyari ke sana kemari, mereka pun mendapatkan penginapan murah, 75 ribu rupiah saja. 

Mereka sepakat iuran masing-masing 25 ribu. Dengan sisa-sisa uang yang ada, alhamdulillah terkumpullah uang 75 ribu. Meski recehan logam mendominasi, yang penting lengkap 75 ribu. 
Seribu rupiah, simbol perjuangan kaum yang lemah


Dengan wajah memelas, Ari menyerahkan uang itu kepada penjaga hotel. Beruntung, sungguh baik penjaga hotel itu. Dikembalikannya 5 ribu kepada Ari. Rasa kasihan dan tidak tega itu menggugah hati sang penjaga hotel. Meski sang penjaga berparas security, tapi hatinya selembut hello kitty. 

Rasa kesetiakawanannya membuat Ari tidak tega menilep uang itu. Dan dibagikanlah kembalian itu kepada Denny dan Kamali. Setelah melalui proses yang pelik dan panjang dalam pembagian harta gono gini itu, akhirnya diputuskan masing-masing memperoleh seribu rupiah. Dan yang tersisa dua ribu. 

Sebenarnya sudah beres semuanya dan Denny juga manggut-manggut manut. Dasar Kamali yang suka membuat perhitungan. Dia pun mikir. 

Kita iuran masing-masing 25 ribu. Dikembalikan seribu. Berarti masing-masing kan hanya membayar iuran 24 ribu. Jika 24 ribu dikali 3, maka totalnya kan 72 ribu.
Jika 72 ribu ditambah dua ribu yang belum dibagi, berarti kan totalnya 74 ribu.
“Kok hanya 74 ribu, ga’ 75 ribu?” Pertanyaan itu pun terlontar. Siapakah yang tega-teganya ngumpetin seribu?

Kira-kira siapakah pelakunya? Apakah Ari, Denny, ataukan justru Kamali sendiri yang ngumpetin seribu rupiah itu? Ataukah penjaga hotel? Ataukah jatuh? Pertanyaan yang rumit.

sumber: unknown source

0 komentar:

Posting Komentar