Tips membuat tulisan ilmiah: banyak jalan menuju Malioboro

Mungkin tulisan kali ini tidak membahas tentang sains dalam kehidupan dalam kehidupan sehari-hari. Ga apa-apa ya! Sekali-kali. Hehehe....

Kali ini saya akan memaparkan tentang penulisan academic writing atau yang dalam Bahasa Indonesia disebut dengan tulisan ilmiah, misalnya artikel jurnal, skripsi, prosiding, atau bahkan laporan praktikum. Agak bikin pusing sih. Tapi tak apalah. Namanya juga sekali-kali.

Tulisan ini adalah interpretasi atas apa yang saya pahami. Hehe... kalo beda ya wajar.
Dalam tulisan-tulisan ilmiah biasanya tersusun dari beberapa bagian [1], yaitu:
  1. Judul
  2. Nama penulis
  3. Abstrak
  4. Kata kunci
  5. Pendahuluan
  1. Metode
  2. Hasil
  3. Diskusi
  4. Acknowledgements (Ucapan terima kasih)
  5. Referensi
Kalo dibahas semua tulisan ini bakal panjang dan marakke mumet, maka hanya bagian pendahuluan, metode, hasil, dan diskusi saja yang saya bahas. Biasanya bagian ini yang campur aduk dan ga’ jelas satu sama lain.

Untuk memudahkan, maka saya tentukan bahwa penelitian ini adalah terkait perjalanan menuju Malioboro. Jadi tujuannya singgah di Malioboro. Hehe...
Malioboro adalah salah satu tujuan yang wajib dikunjungi di Jogjakarta. Bagaimana caranya ke sana? kita adakan penelitiannya yuk.
credit pict: pamitrantours.com

1.      Pendahuluan
Mengapa sih melakukan perjalanan ke Malioboro? Apa alasannya? mengapa Malioboro dan bukan yang lain?

Nah, pertanyaan itulah yang perlu kita bahas sebagai latar belakang dan kita letakkan di pendahuluan. Jadi perlu kita jelaskan dulu Malioboro dan tujuan kita ke sana. Pokoknya pada bagian ini kita tunjukkan dengan berapi-api dan semangat 45 mengapa kita harus ke Malioboro. Yakinkan pembaca dengan review serta data fakta yang meyakinkan.  
Kemudian kita tunjukkan juga novelty atau keterbaruan kita terkait perjalanan menuju Malioboro, misalnya dengan ngesot.

Ngesot ke Malioboro merupakan hal yang baru dan belum pernah dilakukan orang. Sehingga bisa menjadi langkah alternatif menuju Malioboro dan metode ini diyakini lebih ramah lingkungan dibandingkan naik motor atau bis. Sehingga lebih environmental friendly atau greeness. Tentunya ngesot kita pilih setelah membaca penelitian-penelitian sebelumnya. Ga cuman asal.

2.      Metode
Metode biasanya berisi tentang proses atau cara kita ke sana. Misalnya posisi kita di UIN Sunan Kalijaga, maka ada beberapa proses yang bisa kita lakukan. Untuk sampai ke Malioboro yang merupakan tujuan kita, maka ada beberapa jalur. Misalnya melalui Jalan Solo, terus belok kiri setelah Tugu. Cara lain adalah melalui jalan Kusumanegara, setelah titik nol maka belok kanan. Atau melalui jalan tikus, lewat Sapen, kemudian Lempuyangan, Abu Bakar Ali, dan Malioboro.

Okelah, kita tentukan bahwa metode yang kita adaptasi adalah yang terakhir karena dari penelitian sebelumnya, kita ketahui jalur ini lebih aman dan bukan merupakan jalan raya. Aman dan relevan untuk proses ngesot menuju Malioboro. Bisa juga ditambahkan metode lainnya, misalnya apa yang kita siapkan agar aman selama proses ngesot ke Malioboro. Pokoknya bagian ini terkait langkah-langkah dan rencana kita untuk mencapai tujuan.

Setelah tahap ini mantap, maka dilakukanlah ngesot dari UIN ke Malioboro dan rencana-rencana yang lainnya. Selama proses tersebut, catat semua apa yang terjadi.  

3.      Hasil
Hasil penelitian adalah semua yang kita peroleh dalam proses perjalanan. Makanya tak minta untuk nyatet, karena itu data primer penelitian kita. hehehe... 

Misalnya, celana kita robek-robek, hampir di tabrak becak pas di Sapen, hampir terlindas kereta saat melewati Lempuyangan, ataupun hasil yang lainnya.

4.      Diskusi
Setelah sampai di Malioboro, saatnya kita menuliskan diskusi. Pada bagian inilah biasanya ditemui kesulitan yang berarti. Hehe... dan banyak orang hanya menjelaskan ulang proses perjalanan. Pada bagian inilah kita dituntut untuk menjelaskan apa yang terjadi. Menjelaskan hasil, bukan sekedar menceritakan prosesnya.

Mudahnya kita cerita kepada teman kita setelah kita nyampe Malioboro terkait apa yang terjadi. Misalnya bahwa celana kita robek-robek. Kemudian kita jelaskan celana kita robek-robek karena ngesot dan sesekali harus melewati aspal, karena trotoarnya digunakan untuk jualan, parkir motor atau bahkan mobil. Sehingga hancurlah celana kita. Mungkin perlu menggunakan celana anti aspal.

Hasil lain yang juga kita jelaskan misalnya terkait hampir ditabrak becak. Hal ini terjadi, misalnya, dikarenakan saat mbelok kita tidak menyalakan lampu sein. Emang ngesot ada lampu seinnya? Haha... mungkin itu bisa direkomendasikan bagi yang ingin melakukan penelitian lanjutan. Begitu juga saat hampir terlindas kereta. Hal ini hampir terjadi karena kita tidak menaati rambu-rambu lalu lintas. Mentang-mentang ngesot terus boleh nrabas palang pintu kereta api.

Atau setelah kita melakukan penelitian ini, kita memberikan pengetahuan baru bahwa ngesot ternyata proses yang menarik dan environmental friendly untuk menuju Malioboro, tapi memiliki kelemahan terkait keamananan. Intinya, di bagian diskusi inilah kita membahas apa yang terjadi.

Nah, apakah anda sudah paham. Kalo belum paham, baca buku di bawah ini ya. Tapi tolong jangan baca saat ngesot ke Malioboro, karena berbahaya. Itu saja... Salam ngesot!

Kalo ada yang keliru atau masukan, jangan sungkan-sungkan tulis di kolom komentar ya. hehe... Tur nuwun

[1] Hartley, J. (2008). Academic writing and publishing: A practical handbook. Abington: Routledge.

0 komentar:

Posting Komentar